RPP EEK – IPA SMP

9 February 2011 at 2:43 am (Kumpulan Makalah)

Pingin tahu RPP dan perangkat yang lainnya yang lengkap….

hub. aja via e-mail

ipungsunaryo@ymail.com

Permalink Leave a Comment

Metode Pembelajaran Dengan Pendekatan Bermain

13 October 2010 at 5:30 am (Metode Pembelajaran)

A. Kajian Teoritis

1.. Pengertian Belajar

Belajar merupakan salah satu kegiatan inti di sekolah. Berhasil tidaknya seorang siswa tergantung bgaimana proses belajar di sekolah tersebut. Namun demikian, apa sebenarnya pengertian belajar tesebut. Para ahli mengemukakan pendapatnya mengenai definisi belajar seperti yang dikemukakan oleh Slameto (2003:2) bahwa:”Belajar adalah suatu tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.” Perubahan tingkah laku yang diperoleh merupakan hasil interaksi yang di dapat dari lingkungan. Interaksi tersebut, salah satunya adalah proses belajar mengajar yang diperoleh di sekolah. Dengan belajar seseorang dapat memperoleh sesuatu yang baru baik itu pengetahuan, keterampilan maupun sikap.

Selanjutnya Thursan Hakim (dalam Pupuh fathurrohman dan sobry sutikno 2007:6) mengatakan Bahwa:”Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya fikir, dan lain-lain kemampuannya.” Sedangkan menurut M. Sobry Sutikno (dalam Pupuh fathurrohman dan sobry sutikno 2007:5) mengatakan bahwa :”Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.”

Dari definisi –definisi belajar diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa belajar itu bertujuan untuk mengadakan perubahan sesuai dengan tujuan, yang mana dalam belajar itu membutuhkan kegiatan dan usaha. Namun, belajar tidak hanya sekedar berubahnya tingkah laku, tetapi perubahan yang relatif menetap. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Lubis (2005:2) yang mengatakan bahwa :”Belajar merupakan usaha yang berupa kegiatan hingga terjadi perubahan tingkah laku yang relatif tetap.

Dengan demikian belajar selalu berhubungan dengan perubahan tingkah laku yang relatif menetap. Perubahan itu diperoleh melalui hasil interaksi dengan orang lain atau lingkungan sekitar. Setiap perubahan tingkah laku yang diperoleh merupakan hasil pengalamannya.

2.Pengertian Hasil Belajar

Seorang siswa dikatakan telah belajar jika adanya perubahan tingkah laku pada siswa tersebut, yaitu perubahan tingkah laku yang menetap. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku pada siswa tersebut merupakan hasil dari belajar. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Sudjana (2005:3) bahwa:” hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku.”

Menurut pendapat Hudojo (1988:44) bahwa:” Hasil belajar adalah penguasaan hubungan yang telah diperoleh sehingga orang itu dapat menampilkan pengalaman dan penguasaan bahan pelajaran yang telah dipelajari.” Hal ini sejalan dengan yang  dinyatakan Sudjana (2005:22) bahwa:” Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.”

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut diketahui bahwa hasil belajar yang telah diperoleh siswa merupakan pedoman bagi guru untuk mengetahui sejauhmana siswa menguasai materi yang diajarkan. Hasil belajar siswa mencerminkan kemampuan yang dimiliki siswa setelah belajar. Hal ini berarti hasil belajar tidak terlepas dari pembelajaran yang diberikan guru. Namun, untuk mengetahui hasil belajar tersebut diperlukan evaluasi. Dengan mengadakan evaluasi kita mengetahui kebaikan dan kekurangan usaha kita yang memperkaya kita sebagai pengajar, yang dapat kita gunakan di masa mendatang dengan anggapan bahwa keberhasilan sekarang juga akan memberikan hasil yang baik bagi murid-murid lain di kemudian hari.

Dengan evaluasi, guru dapat memperhatikan sejauhmana keberhasilan dia mengajar seperti ketepatan memilih metode, memilih alat peraga yang digunakan terhadap proses belajar mengajar. Menurut Suryosubroto (1996:48) bahwa:” efektivits guru mengajar nyata dari keberhasilan siswa menguasai apa yang diajarkan guru itu.” Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa:” Keberhasilan proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar.

Bloom (dalam Sardiman 2003:23) mengemukakan kemampuan sebagai hasil belajar, terdiri dari 3 kemampuan yaitu:

1) Kemampuan kognitif yaitu kemampuan dalam mengingat materi yang telah dipelajari dan kemampuan mengembangkan intelegensi.

2) Kemampuan afektif, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan sikap kejiwaan seperti kecenderungan akan minat dan motivasi.

3) Kemampuan psikomotor, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan dan fisik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil usaha yang diperoleh siswa melalui proses belajar berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, yang diukur melalui tes.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar matematika adalah hasil usaha yang diperoleh siswa melalui proses belajar pada perkalian melalui metode bermain tahun ajaran 2008/2009 yang dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf yang diukur melalui tes pada subjek didik didasarkan pada taksonomi Bloom , pada ranah kognitif.

3. Pengertian Metode Bermain

Menurut DR.S.Nasution “Metode adalah suatu cara yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam suatu tugas atau pekerjaan agar dapat mencapai tujuan sesuai dengan yang ditetapkan”. Sedangkan menurut Drs.H Abu Ahmad dkk (2005:52) metode adalah suatu pengetahuan tentang cara- cara mengajar yang dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur. Sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia metode adalah “cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditetapkan.

Menurut Syaiful B. Djamarah dkk. (2006:82-84), metode memiliki kedudukan:

• Sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar (KBM);

• Menyiasati Perbedaan Individual Anak Didik;

• Untuk Mencapai Tujuan Pembelajaran.

Makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar, diharapkan makin efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Tentunya faktor-faktor lain pun harus diperhatikan juga, seperti; faktor guru, faktor siswa, faktor situasi (lingkungan belajar), media, dan lain-lain.
Sehubungan dengan metode adalah salah satu tokoh yang dianggap paling berjasa dia adalah Plato seorang filsuf yunani. Ia dianggap sebagai orang pertama yang menyadari dan melihat pentingnya nilai praktis dari bermain. Menurut Plato anak-anak akan lebih mudah mempelajari Aritmatika dengan cara permainan. Sedangkan Sudono (2000:1) mengemukakan bahwa “bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak”.

Dengan bermain anak bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, anak-anak akan lebih senang dan menjadikan si anak lebih aktif. Sebagaimana dikemukakan oleh Mayke (dalam Sudono, 2000:3) “ belajar dengan bermain akan memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi serta mempraktekkannya.

Arief Sadiman (2002:79) Permainan dapat dipakai untuk mempraktekkan keterampilan membaca dan berhitung sederhana. Tujuan pemberantasan buta aksara dan buta angka untuk orang dewasa atau pelajaran membaca, menulis permulaan serta matematika adalah yang lazim dikaitkan dengan permainan. Dalam proses pembelajaran guru hendaknya memberikan kebebasan kepada setiap anak didiknya untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pemikiran mereka. Sebaiknya guru juga memberi kebebasan sesuai dengan sifat alami anak sehingga dalam mengembangkan kreatifitasnya anak tidak merasa takut untuk berbeda dengan gurunya.

Dari penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa metode bermain yang dimaksud adalah suatu cara yang digunakan dalam melakukan kegiatan untuk menjelaskan konsep abstrak dalam Matematika yang lebih menyenangkan (mencegah ketakutan siswa terhadap pelajaran Matematika) agar siswa lebih paham dan lebih lama mengingatnya.

Permalink Leave a Comment

KBM IPA Berbasis Multi Media Komputer

6 October 2010 at 3:22 pm (Metode Pembelajaran)

Pembelajaran IPA Menggunakan Multi Media Komputer

Untuk Meningkatkan Penguasaan Materi IPA

A. Landasan Teori

  1. Peningkatan Penguasaan Materi

Kita mengetahui bahwa di SMP, mata pelajaran Fisika merupakan bagian dari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Fisika merupakan mata pelajaran yang diharapkan mampu memperluas wawasan pengetahuan tentang materi dan energi, meningkatkan keterampilan ilmiah bagi anak didik. Selain itu Fisika diharapkan berfungsi menumbuhkan sikap ilmiah dan meningkatkan kesadaran atas kebesaran kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk mencapai harapan itu, pelajaran Fisika tidak mungkin hanya dipandang sebagai “sosok pengetahuan pejal (body of knowledge), sehingga diharapkan siswa sebagai pengumpul atau kolektor dari temuan ahli-ahli Fisika” (Karhami, 1998 : 3). Menurut GBPP 1994 pengertian IPA (termasuk di dalamnya Fisika) adalah “hasil kegiatan manusia yang berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi, tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah”. Hal ini dapat diartikan bahwa konsep Fisika tidak sekedar menjadi ingatan semata, akan tetapi lebih dari itu, yakni suatu konsepsi yang disertai alasan logis. Untuk memperoleh itu, siswa perlu mendapat pengalaman langsung dan melakukan kegiatan ilmiah melalui kegiatan coba-coba (trial and error).

Agar perilaku tersebut ada dalam diri siswa, maka seorang siswa harus mempunyai kemauan yang keras untuk belajar, kemampuan dalam menguasai materi pelajaran, dan kesempatan yang luas untuk belajar. Ketiganya ini harus seiring sejalan.

Kemauan yang keras disebut motivasi. Ada dua kemungkinan motivasi yang timbul pada siswa saat terlibat dalam aktivitas belajar yaitu motivasi yang timbul dari dalam dirinya sendiri, atau motivasi yang timbul dari luar dirinya. (Mohammad Noer, 1996).

Motivasi yang berasal dari dirinya sendiri lebih bersifat kognitif dan pada umumnya akan dapat mengambil langkah-langkah konkret untuk mencapai tujuan. Motivasi ini timbul karena siswa terdorong oleh kebutuhan keterlibatannya dalam belajar. Siswa belajar itu sendiri dapat bermanfaat bagi dirinya. Tujuan yang ingin dicapai terletak dalam perbuatan belajar itu sendiri, misalnya menambah pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya.

Pada motivasi yang berasal dari luar, menurut siswa, belajar itu bukan dapat bermanfaat bagi dirinya, melainkan karena mengharapkan sesuatu di balik kegaitan belajar itu. Misalnya nilai yang baik, hadiah, penghargaan atau menghindari dari hukuman. Tujuan yang ingin dicapai di luar perbuatan belajar itu. Maka pujian terhadap seseorang siswa yang menunjukkan prestasi belajarnya merupakan salah satu upaya menumbuhkan motivasi dari luar siswa. Motivasi dari luar siswa akan efektif bila sesuai dengan kebutuhan siswa. Maka dari itu, upaya lain yang perlu dilakukan oleh seorang guru adalah menyajikan materi pelajaran yang menarik dan semudah mungkin, sehingga siswa menjadi menyukai pelajaran yang disampaikan dan dapat lebih mudah memahami dan menguasai materi pelajaran. Dari sini peran guru dapat ditingkatkan sebagai pendidik, fasilitator, manajer, dan teman bagi siswa. Dengan menggunakan motivasi yang tepat, penguasaan materi Fisika, khususnya Perpindahan kalor dapat meningkat.

Menjadi jelaslah bahwa salah satu masalah yang dihadapi guru untuk menyelenggarakan pengajaran adalah bagaimana memotivasi atau menumbuhkan motivasi dalam diri siswa secara efektif. Keberhasilan suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh adanya penyediaan motivasi atau dorongan.

Dalam teori konstruktivisme disebutkan, bahwa siswa belajar tidak hanya menerima dari apa yang telah diajarkan guru, melainkan siswa juga akan membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya. Guru dapat membantu memberikan kemudahan dalam proses pembentukan kognitif siswa, memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri. Guru dapat memberikan anak tangga pada siswa untuk membawa pada pemahaman siswa sendiri. (Mohammad Noer, 1996)

Dengan demikian dapat ditentukan bahwa keberhasilan seorang siswa dalam belajar dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu :

1.      Kemauan siswa dalam bejalar (motivation).

2.      Kemampuan siswa menguasai materi pelajaran (ability).

3.      Kesempatan yang luas bagi siswa untuk belajar (opportunity).

Dengan mendasarkan pada pemahaman filosofis pembentukan kognitif pada siswa seperti tersebut di atas, jika dilaksanakan dalam KBM akan bermanfaat bagi peningkatan penguasaan materi Fisika, khususnya pada Konsep Perpindahan kalor.

  1. Pembelajaran Multi Media Komputer

Dalam setiap kegiatan Proses Belajar Mengajar tentunya akan terjadi proses komunikasi antara guru yang menjadi sumber informasi dan siswa sebagai penerima pesan informasi. Dalam kenyataan yang terjadi pesan yang disampaikan guru kadangkala tidak diterima secara utuh oleh siswa. Hal itu bisa terjadi karena proses penyampaian pesan tidak efektif.

Agar pasan yang disampaikan oleh pemberi pesan diterima secara utuh oleh penerima pesan, maka perlu adanya wahana penyalur pesan itu. Wahana itulah yang disebut media. Dari sekian banyak media pembelajaran, media pandang dengarlah (multimedia) yang lebih mudah dan cepat diterima jika dibanding dengan penjelasan lesan.

Multi media dalam penelitian ini adalah multi image yang menggunakan media office Microsoft Powerpoint , komputer, LCD dan perangkat sound sistem. Media ini mempunyai kelebihan antara lain : Keterangan dapat ditulis dan dilengkapi gambar, Gambar bisa berupa gambar diam atau bergerak, dapat dilengkapi efek suara maupun video ( audio visual ). Mengingat kelebihannya tersebut, jelas multi media komputer ini memiliki semua aspek yang dimiliki oleh media-media lain.

B. Penelitian yang Relevan

Mengapa untuk meningkatkan penguasaan konsep Perpindahan kalor menggunakan pendekatan multimedia? Kami mempunyai beberapa asumsi yang menjadi dasar penelitian ini .

1.      Penyampaian materi Perpindahan kalor akan sulit dipahami siswa jika penekanannya hanya pada penguasaan materi ilmu itu sendiri,                             tanpa melibatkan keterampilan mental (intelektual) yang sering disebut keterampilan proses. Untuk itu setiap siswa perlu mendapat pengalaman nyata melalui interaksi langsung dengan suatu obyek, sehingga siswa senantiasa membangun suatu gagasan khas tentang benda atau peristiwa di sekitarnya. Selain itu juga siswa bisa ikut mengenal dan memanfaatkan peralatan-peralatan yang baru baginya untuk belajar interaktif. Hal ini sesuai pendapat Piaget, bahwa pengetahuan akan dibentuk oleh siswa jika terjadi interaksi aktif antara siswa itu dengan obyek dan siswa selalu mencoba untuk membentuk pengertian dari interaksi tersebut. (Darliana, 1990). Untuk itu pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran multi image ini sangat diperlukan untuk meningkatkan pemahaman siswa.

2.      Konsep Perpindahan kalor banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dan diterapkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakekatnya selalu terbuka untuk dipertanyakan, dipersoalkan dan dikembangkan lebih lanjut. Untuk itu siswa perlu didorong dan diberi kesempatan untuk mencari dan mengumpulkan data serta mengolahnya, mengadakan percobaan, melapor-kan, dan mempertanggungjawabkan hasil temuannya dan mengkomunikasi-kannya dengan benar. Hal ini yang harus dilatihkan kepada siswa sejak dini.

3.      Perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorias dalam diri siswa mesti dibina secara berimbang dan menyatu. Untuk itulah dituntut keterlibatan belajar siswa dengan mendayagunakan semua potensi dirinya melalui cara-cara belajar yang benar dan bersifat intensif. Menurut pandangan seorang ahli siswa akan memahami pelajarannya bila siswa aktif sendiri membentuk atau menghasilkan pengertian dari hal-hal yang diinderanya. Pengertian yang dimiliki siswa merupakan bentuknya sendiri dan bukan hasil bentukan dari guru. (Darliana, 1990)

Berdasarkan pada asumsi-asumsi di atas, jika kita ingin siswa dapat mengembangkan pengetahuannya, khususnya dalam upaya meningkatkan pemahaman terhadap konsep Perpindahan kalor, pembelajaran dengan multimedia komputer perlu dilaksanakan. Dengan begitu, tujuan pembelajaran umum dari pokok bahasan ini sesuai dengan Standar Kompetensi dan Komptensi Dasar diharapkan dapat tercapai.

C. Kerangka Berfikir

Inovasi pendidikan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengarah pada pembentukan kecakapan hidup ( life skill ). Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus yang akhirnya akan melahirkan seseorang menjadi kompeten untuk melakukan sesuatu dalam kenyataan kehidupan sehari-hari. Materi perpindahan kalor ini tidak sekedar suatu teori yang harus  dibaca dan dihapalkan belaka, tetapi harus difikirkan dan dipahami serta dapat mengaitkan proses terjadinya suatu perpindahan kalor itu secara ilmiah.

Untuk itu pembelajaran materi perpindahan kalor ini dengan menggunakan  multi media komputer sangat diperlukan, disamping siswa mendapat variasi / keragaman tehnik belajar dari gurunya juga dapat meningkatkan makna pembelajaran bagi siswa. Adanya peningkatan makna pembelajaran ini diharapkan akan meningkatkan hasil belajar siswa.

D. Hipotesis

Berdasarkan kerangka teoritik di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut :

Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam penguasaan materi perpindahan kalor dapat dilakukan dengan menggunakan multi media komputer dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga dengan adanya model pembelajaran multi image dari guru ini dapat mempermudah siswa dalam penguasaan materi perpindahan kalor.

Permalink Leave a Comment

Metode Out Door Activity dalam Pembelajaran IPA

6 October 2010 at 2:36 pm (Metode Pembelajaran)

Metode Out Door Study

Untuk Peningkatan Minat Belajar IPA

A. Landasan Teori

  1. Peningkatan Minat Belajar

Kita mengetahui bahwa di SMP, mata pelajaran Fisika merupakan bagian dari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Fisika merupakan mata pelajaran yang diharapkan mampu memperluas wawasan pengetahuan tentang Alam dan Fisika, meningkatkan keterampilan dalam memahami hal-hal yang berkaitan dengan fenomena alam. Selain itu proses pembelajaran secara out door diharapkan dapat memenuhi rasa keingintahuan anak didik. Dan yang lebih penting, proses pembelajaran yang sistematis diharapkan dapat  menumbuhkan sikap ilmiah.

Hasil kegiatan manusia yang berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi, tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah”. Hal ini dapat diartikan bahwa konsep Fisika tidak sekedar menjadi ingatan semata, akan tetapi lebih dari itu, yakni suatu konsepsi yang disertai alasan logis. Untuk memperoleh itu, siswa perlu mendapat pengalaman langsung dan melakukan kegiatan ilmiah melalui kegiatan coba-coba (trial and error).

Agar perilaku tersebut ada dalam diri siswa, maka seorang siswa harus mempunyai kemauan yang keras untuk belajar, kemampuan dalam menguasai materi pelajaran, dan kesempatan yang luas untuk belajar. Ketiganya ini harus seiring sejalan.

Kemauan yang keras disebut minat. Ada dua kemungkinan minat yang timbul pada siswa saat terlibat dalam aktivitas belajar yaitu minat yang timbul dari dalam dirinya sendiri, atau minat yang timbul dari luar dirinya. (Mohammad Noer, 1996).

Minat yang berasal dari dirinya sendiri lebih bersifat kognitif dan pada umumnya akan dapat mengambil langkah-langkah konkret untuk mencapai tujuan. Minat ini timbul karena siswa terdorong oleh kebutuhan keterlibatannya dalam belajar. Siswa belajar itu sendiri dapat bermanfaat bagi dirinya. Tujuan yang ingin dicapai terletak dalam perbuatan belajar itu sendiri, misalnya menambah pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya.

Pada minat yang berasal dari luar, menurut siswa, belajar itu bukan dapat bermanfaat bagi dirinya, melainkan karena mengharapkan sesuatu di balik kegaitan belajar itu. Misalnya nilai yang baik, hadiah, penghargaan atau menghindari dari hukuman. Tujuan yang ingin dicapai di luar perbuatan belajar itu. Maka pujian terhadap seseorang siswa yang menunjukkan prestasi belajarnya merupakan salah satu upaya menumbuhkan minat dari luar siswa. Minat dari luar siswa akan efektif bila sesuai dengan kebutuhan siswa. Maka dari itu, upaya lain yang perlu dilakukan oleh seorang guru adalah menyajikan materi pelajaran yang menarik dan semudah mungkin, sehingga siswa menjadi menyukai pelajaran yang disampaikan dan dapat lebih mudah memahami dan menguasai materi pelajaran. Dari sini peran guru dapat ditingkatkan sebagai pendidik, fasilitator, manajer, dan teman bagi siswa. Dengan menggunakan minat yang tepat, penguasaan materi Fisika, khususnya Besaran dan satuan dapat meningkat.

Menjadi jelaslah bahwa salah satu masalah yang dihadapi guru untuk menyelenggarakan pengajaran adalah bagaimana menumbuhkan minat dalam diri siswa secara efektif. Keberhasilan suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh adanya penyediaan minat atau dorongan.

Dalam teori konstruktivisme disebutkan, bahwa siswa belajar tidak hanya menerima dari apa yang telah diajarkan guru, melainkan siswa juga akan membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya. Guru dapat membantu memberikan kemudahan dalam proses pembentukan kognitif siswa, memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri. Guru dapat memberikan anak tangga pada siswa untuk membawa pada pemahaman siswa sendiri. (Mohammad Noer, 1996)

Dengan demikian dapat ditentukan bahwa keberhasilan seorang siswa dalam belajar dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu :

1.      Kemauan siswa dalam belajar (motivation).

2.      Kemampuan siswa menguasai materi pelajaran (ability).

3.      Kesempatan yang luas bagi siswa untuk belajar (opportunity).

Dengan mendasarkan pada pemahaman filosofis pembentukan kognitif pada siswa seperti tersebut di atas, jika dilaksanakan dalam KBM akan bermanfaat bagi peningkatan penguasaan materi Fisika, khususnya pada materi Besaran dan satuan.

  1. Metode Out Door Study

Dalam setiap kegiatan Proses Belajar Mengajar tentunya akan terjadi proses komunikasi antara guru yang menjadi sumber informasi dan siswa sebagai penerima pesan informasi. Dalam kenyataan yang terjadi pesan yang disampaikan guru kadang kala tidak diterima secara utuh oleh siswa. Hal itu bisa terjadi karena proses penyampaian pesan tidak efektif.

Agar pasan yang disampaikan oleh pemberi pesan diterima secara utuh oleh penerima pesan, maka perlu adanya pengenalan langsung dengan lingkungan di luar sekolah. Lingkungan yang menjadi wahana sumber belajar. Kehidupan sehari-hari yang terjadi disekitar siswa akan menjadi pengalaman berharga bagi siswa untuk membekali siswa terjun dunia nyata.

Peran guru di sini sebagai motivator, artinya guru sebagai pemandu agar siswa belajar lebih aktif, kreatif dan akrab dengan lingkungannya. Dengan metode ini yang diterapkan pada materi ini dapat menjadi sarana memupuk kreatifitas, kemandirian, kerjasama atau gotong royong dan selanjutnya meningkatkan minat belajar terhadap materi Besaran dan satuan.

B. Penelitian yang Relevan

Mengapa untuk meningkatkan minat belajar siswa pada materi Besaran dan satuanmenggunakan metode out door study ? Kami mempunyai beberapa asumsi yang menjadi dasar penelitian ini .

1.      Penyampaian materi Besaran dan satuan akan sulit dipahami siswa jika penekanannya hanya pada penguasaan materi ilmu itu sendiri,                             tanpa melibatkan keterampilan mental (intelektual) yang sering disebut keterampilan proses. Untuk itu setiap siswa perlu mendapat pengalaman nyata melalui interaksi langsung dengan suatu obyek nyata diluar kelas (out door activity), sehingga siswa senantiasa membangun suatu gagasan khas tentang benda atau peristiwa di sekitarnya. Selain itu juga siswa bisa ikut mengenal dan memanfaatkan hal-hal yang baru baginya untuk belajar interaktif. Hal ini sesuai pendapat Piaget, bahwa pengetahuan akan dibentuk oleh siswa jika terjadi interaksi aktif antara siswa itu dengan obyek dan siswa selalu mencoba untuk membentuk pengertian dari interaksi tersebut. (Darliana, 1990). Untuk itu pembelajaran dengan menggunakan metode out door study ini sangat diperlukan untuk meningkatkan minat belajar siswa dan selanjutnya dapat meningkatkan pemahaman siswa.

2.      Konsep Besaran dan satuan banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dan diterapkan dalam pengembangan ilmu Fisika pada hakekatnya selalu terbuka untuk dipertanyakan, dipersoalkan dan dikembangkan lebih lanjut. Untuk itu siswa perlu didorong dan diberi kesempatan untuk mencari dan mengumpulkan data serta mengolahnya, mengadakan percobaan, melapor-kan, dan mempertanggungjawabkan hasil temuannya dan mengkomunikasi-kannya dengan benar. Hal ini yang harus dilatihkan kepada siswa sejak dini.

3.      Perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorias dalam diri siswa mesti dibina secara berimbang dan menyatu. Untuk itulah dituntut keterlibatan belajar siswa dengan mendayagunakan semua potensi dirinya melalui cara-cara belajar yang benar dan bersifat intensif. Menurut pandangan seorang ahli siswa akan memahami pelajarannya bila siswa aktif sendiri membentuk atau menghasilkan pengertian dari hal-hal yang diinderanya. Pengertian yang dimiliki siswa merupakan bentuknya sendiri dan bukan hasil bentukan dari guru. (Darliana, 1990)

Berdasarkan pada asumsi-asumsi di atas, jika kita ingin siswa dapat mengembangkan pengetahuannya, khususnya dalam upaya meningkatkan pemahaman terhadap konsep Besaran dan satuan pembelajaran dengan metode out door study perlu dilaksanakan. Dengan begitu, tujuan pembelajaran umum dari pokok bahasan ini sesuai dengan Standar Kompetensi dan Komptensi Dasar diharapkan dapat tercapai.

C. Kerangka Berfikir

Inovasi pendidikan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengarah pada pembentukan kecakapan hidup ( life skill ). Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus yang akhirnya akan melahirkan seseorang menjadi kompeten untuk melakukan sesuatu dalam kenyataan kehidupan sehari-hari. Materi Besaran dan satuan ini tidak sekedar suatu teori yang harus  dibaca dan dihapalkan belaka, tetapi harus difikirkan dan dipahami serta dapat mengaitkan proses secara ilmiah.

Untuk itu pembelajaran materi Besaran dan satuan ini dengan menggunakan  metode out door study sangat diperlukan, disamping siswa mendapat variasi / keragaman tehnik belajar dari gurunya juga dapat meningkatkan makna pembelajaran bagi siswa. Adanya peningkatan makna pembelajaran ini diharapkan akan meningkatkan hasil belajar siswa.

D. Hipotesis

Berdasarkan kerangka teoritik di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut :

Untuk meningkatkan minat belajar dan kemampuan siswa dalam penguasaan materi Besaran dan satuandapat dilakukan dengan menggunakan metode out door study dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga dengan adanya model pembelajaran di luar kelas ini dapat mempermudah siswa dalam penguasaan materi Besaran dan satuan.

Permalink Leave a Comment

Menjadi Guru Profesional

6 October 2010 at 2:02 pm (Kumpulan Makalah)

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Dalam manajemen sumber daya manusia, menjadi profesional adalah tuntutan jabatan, pekerjaan ataupun profesi. Ada satu hal penting yang menjadi aspek bagi sebuah profesi, yaitu sikap profesional dan kualitas kerja. Profesional (dari bahasa Inggris) berarti ahli, pakar, mumpuni dalam bidang yang digeluti.

Menjadi profesional, berarti menjadi ahli dalam bidangnya. Dan seorang ahli, tentunya berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya. Akan tetapi tidak semua Ahli dapat menjadi berkualitas. Karena menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga menyangkut persoalan integritas dan personaliti. Dalam perspektif pengembangan sumber daya manusia, menjadi profesional adalah satu kesatuan antara konsep personaliti dan integritas yang dipadupadankan dengan skil atau keahliannya.

Menjadi profesional adalah tuntutan setiap profesi, seperti dokter, insinyur, pilot, ataupun profesi yang telah familiar ditengah masyarakat. Akan tetapi guru…? Sudahkan menjadi profesi dengan kriteria diatas. Guru jelas sebuah profesi. Akan tetapi sudahkah ada sebuah profesi guru yang profesional…? Minimal menjadi guru harus memiliki keahlian tertentu dan distandarkan secara kode keprofesian. Apabila keahlian tersebut tidak dimiliki, maka tidak dapat disebut guru. Artinya tidak sembarangan orang bisa menjadi guru.

Namun pada kenyataanya, banyak ditemui menjadi guru seperti pilihan profesi terakhir. Kurang bonafide, kalau sudah mentok tidak ada pekerjaan lain atau sebuah status sosial yang lekat dengan kemarginalan, gaji kecil, tidak sejahtera malah dibawah garis kemisikinan. Bahkan guru ada yang dipilih asal comot yang penting ada yang mengajar. Padahal guru adalah operator sebuah kurikulum pendidikan. Ujung tombak pejuang pengentas kebodohan. Bahkan guru adalah mata rantai dan pilar peradaban dan benang merah bagi proses perubahan dan kemajuan suatu masyarakat atau bangsa

B. Permasalahan

Mengingat guru adalah profesi yang sangat idealis, permalahannya adalah : Bagaimana melahirkan sosok guru profesional yang mampu menjawab tantangan dalam meningkatkan mutu pendidikan?

C. Tujuan

Secara khusus makalah ini bertujuan untuk memberikan sumbang saran dalam, upaya peningkatan pemahaman arti dari profesionalisme seorang guru dalam meningkatkan mutu pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

A. Tantangan

Kemunculan masalah kultural/tradisi bertitik tolak dari permasalahan waktu. Lamanya kondisi guru berada dalam ketidaksejahteraan telah membentuk tradisi-tradisi yang terinternalisasi dalam kehidupan guru sampai sekarang. Konkretnya, tradisi itu lebih mengacu pada ranah akademis.

Minimnya kesejahteraan guru telah menyebabkan konsentrasi guru terpecah menjadi beberapa sisi. Di satu sisi seorang guru harus selalu menambah kapasitas akademis pembelajaran dengan terus memperbarui dan berinovasi dengan media, metode pembelajaran, dan kapasitas dirinya. Di sisi lain, sebagai efek demonstrasi dari minimnya kesejahteraan, seorang guru dituntut memenuhi kesejahteraannya secara berbarengan.

Dalam praktiknya, seorang guru sering kali lebih banyak berjibaku (baca: berkonsentrasi) dengan usahanya dalam memenuhi kesejahteraan keluarga. Akhirnya, seiring dengan perjalanan waktu, sisi-sisi peningkatan kualitas akademis menjadi tersisihkan dan hal ini terus berlangsung sampai sekarang. Minimnya kesejahteraan guru dalam jangka waktu lama telah menggiring budaya/tradisi akademis menjadi terpinggirkan.

Permasalahan moral muncul hampir berbarengan dengan permasalahan kultural. Hemat penulis, permasalahan moral ini bisa disamakan dengan permasalahan watak dari guru itu sendiri. Akar masalahnya sama, muncul sebagai efek demonstrasi dari minimnya kesejahteraan guru. Minimnya kesejahteran guru secara tidak langsung telah menggiring guru-guru dalam ruang-ruang sempit pragmatisme. Yang terbayang oleh seorang guru ketika melaksanakan proses pendidikan adalah bagaimana seorang guru bisa dengan cepat menyelesaikan target studi yang telah dirancang. Setelah itu guru bisa langsung beralih profesi sejenak demi mendapatkan tambahan pendapatan karena kesejahteraannya minim. Akhirnya, pendidikan yang seyogianya diselenggarakan melalui proses memadai terabaikan. Hasil akhir menjadi target utama dibandingkan dengan proses yang dilaksanakan. Inilah wujud nyata dari watak-watak pragmatis.

Permasalahan struktural lebih mengacu pada kondisi atau struktur sosial seorang guru di luar proses pendidikan (baca: lingkungan sosial). Jika mengacu pada sumber masalah, hal ini berasal dari minimnya kesejahteraan yang dimiliki seorang guru. Minimnya tingkat kesejahteraan secara materialistis dari seorang guru telah menyebabkan posisi sosial guru di masyarakat tersubordinasi.

Posisi sosial guru menjadi terkesan lebih rendah daripada masyarakat lain yang berprofesi bukan guru, katakanlah itu seorang konsultan, manajer, pengacara, dan lainnya. Padahal, seperti kita ketahui, secara hakikat, profesi yang digeluti seseorang adalah sama, tidak saling menyubordinasi. “Inferiority complex”

Yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam hal ini adalah efek dari subordinasi sosial tersebut. Efek tersebut adalah perasaan rendah diri dari seorang guru, atau dalam bahasa Pramoedya Ananta Toer sebagai inferiority complex. Bagi seorang guru, perasaan rendah diri seperti ini merupakan hal yang harus dihindari. Fungsi guru sebagai pentransformasi sosial kepada peserta didik memerlukan kepercayaan diri yang besar. Bukan tidak mungkin perasaan-perasaan rendah diri tersebut akan menular kepada peserta didik. Hal ini tentu saja sangat berbahaya.

Simpulan sederhana dari ketiga masalah tersebut adalah bahwa akar permasalahan guru kontemporer adalah tingkat kesejahteraan. Minimnya tingkat kesejahteraan guru menjadi permasalahan pokok. Di luar kontroversi tentang UU Guru dan Dosen tersebut, kita mendapatkan pembenaran dari UU Guru dan Dosen tersebut, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan guru.

Lima tahun pascapengesahan UU Guru dan Dosen merupakan masa transisi menuju profesionalisme guru seutuhnya. Oleh karena itu, dalam konteks menuju profesionalisme guru seutuhnya tersebut, masalah-masalah di atas seyogianya diposisikan sebagai sebuah tantangan yang harus segera dijawab.

Ketika tahun 2009 diisi oleh kerja keras guru dalam menjawab ketiga tantangan tersebut, perjuangan menuju profesionalisme guru telah melaju beberapa langkah ke depan. Dengan demikian, menjadi hal wajar apabila tahun 2009 dijadikan sebagai tahun menuju profesionalisme guru seutuhnya. Semoga tahun 2009 menjadi kado manis bagi dunia pendidikan Indonesia.

B. Tantangan Profesi Guru

(1) Perkembangan Teknologi Informasi

Dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru, terjadinya revolusi teknologi informasi merupakan sebuah tantangan yang harus mampu dipecahkan secara mendesak. Adanya perkembangan teknologi informasi yang demikian akan mengubah pola hubungan guru-murid, teknologi instruksional dan sistem pendidikan secara keseluruhan

Kemampuan guru dituntut untuk menyesuaikan hal demikian itu. Adanya revolusi informasi harus dapat dimanfaatkan oleh bidang pendidikan sebagai alat mencapai tujuannya dan bukan sebaliknya justru menjadi penghambat. Untuk itu, perlu didukung oleh suatu kehendak dan etika yang dilandasi oleh ilmu pendidikan dengan dukungan berbagai pengalaman para praktisi pendidikan di lapangan.

Perkembangan teknologi (terutama teknologi informasi) menyebabkan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan akan mulai bergeser. Sekolah tidak lagi akan menjadi satu-satunya pusat pembelajaran karena aktivitas belajar tidak lagi terbatasi oleh ruang dan waktu.

Peran guru juga tidak akan menjadi satu-satunya sumber belajar karena banyak sumber belajar dan sumber informasi yang mampu memfasilitasi seseorang untuk belajar. Wen (2003) seorang usahawan teknologi mempunyai gagasan mereformasi system pendidikan masa depan.

Menurutnya, apabila anak diajarkan untuk mampu belajar sendiri, mencipta, dan menjalani kehidupannya dengan berani dan percaya diri atas fasilitasi lingkungannya (keluarga dan masyarakat) serta peran sekolah tidak hanya menekankan untuk mendapatkan nilai-nilai ujian yang baik saja, maka akan jauh lebih baik dapat menghasilkan generasi masa depan.

Orientasi pendidikan yang terlupakan adalah bagaimana agar lulusan suatu sekolah dapat cukup pengetahuannya dan kompeten dalam bidangnya, tapi juga matang dan sehat kepribadiannya. Bahkan konsep tentang sekolah di masa yang akan datang, menurutnya akan berubah secara drastis. Secara fisik, sekolah tidak perlu lagi menyediakan sumber-sumber daya yang secara tradisional berisi bangunan-bangunan besar, tenaga yang banyak dan perangkat lainnya. Sekolah harus bekerja sama secara komplementer dengan sumber belajar lain terutama fasilitas internet yang telah menjadi “sekolah maya”.

Bagaimanapun kemajuan teknologi informasi di masa yang akan datang, keberadaan sekolah tetap akan diperlukan oleh masyarakat. Kita tidak dapat menghapus sekolah, karena dengan alasan telah ada teknologi informasi yang maju. Ada sisi-sisi tertentu dari fungsi dan peranan sekolah yang tidak dapat tergantikan, misalnya hubungan guru-murid dalam fungsi mengembangkan kepribadian atau membina hubungan sosial, rasa kebersamaan, kohesi sosial, dan lain-lain.

Teknologi informasi hanya mungkin menjadi pengganti fungsi penyebaran informasi dan sumber belajar atau sumber bahan ajar. Bahan ajar yang semula disampaikan di sekolah secara klasikal, lalu dapat diubah menjadi pembelajaran yang diindividualisasikan melalui jaringan internet yang dapat diakses oleh siapapun dari manapun secara individu. (Karsidi, 2004). Inilah tantangan profesi guru. Apakah perannya akan digantikan oleh teknologi informasi, atau guru yang memanfaatkan teknologi informasi untuk menunjang peran profesinya.

Dunia pendidikan harus menyiapkan seluruh unsur dalam sistim pendidikan agar tidak tertinggal atau ditinggalkan oleh perkembangan teknologi informasi tersebut. Melalui penerapan dan pemilihan teknologi informasi yang tepat (sebagai bagian dari teknologi pendidikan), maka perbaikan mutu yang berkelanjutan dapat diharapkan.

Perbaikan yang berlangsung terus menerus secara konsisten/konstan akan mendorong orientasi pada perubahan untuk memperbaiki secara terus menerus dunia pendidikan. Adanya revolusi informasi dapat menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan karena mungkin kita belum siap menyesuaikan. Sebaliknya, hal ini akan menjadi peluang yang baik bila lembaga pendidikan mampu menyikapi dengan penuh keterbukaan dan berusaha memilih jenis teknologi informasi yang tepat, sebagai penunjang pencapaian mutu pendidikan.

Pemilihan jenis media sebagai bentuk aplikasi teknologi dalam pendidikan harus dipilih secara tepat, cermat dan sesuai kebutuhan, serta bermakna bagi peningkatan mutu pendidikan kita.

(2) Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan

Kini, paradigma pembangunan yang dominan telah mulai bergeser ke paradigma desentralistik. Sejak diundangkan UU No.22/1999 tentang Pemerintah Daerah maka menandai perlunya desentralisasi dalam banyak urusan yang semula dikelola secara sentralistik. Menurut Tjokroamidjoyo (dalam Jalal dan Supriyadi, 2001), bahwa salah satu tujuan dari desentralisasi adalah untuk meningkatkan pengertian rakyat serta dukungan mereka dalam kegiatan pembangunan dan melatih rakyat untuk dapat mengatur urusannya sendiri. Ini artinya, bahwa kemauan berpartisipasi masyarakat dalam pembangunan (termasuk dalam pengembangan pendidikan) harus ditumbuhkan dan ruang partisipasi perlu dibuka selebar-lebarnya.

Bergesernya paradigma pembangunan yang sentralistik ke desentralistik telah mengubah cara pandang penyelenggara negara dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan. Pembangunan harus dipandang sebagai bagian dari kebutuhan masyarakat itu sendiri dan bukan semata kepentingan negara.

Pembangunan seharusnya mengandung arti bahwa manusia ditempatkan pada posisi pelaku dan sekaligus penerima manfaat dari proses mencari solusi dan meraih hasil pembangunan untuk dirinya dan lingkungannya dalam arti yang lebih luas. Dengan demikian, masyarakat harus mampu meningkatkan kualitas kemandirian mengatasi masalah yang dihadapinya, baik secara individual maupun secara kolektif.

Belajar dari pengalaman bahwa ketika peran pemerintah sangat dominan dan peranserta masyarakat hanya dipandang sebagai kewajiban, maka masyarakat justru akan terpinggirkan dari proses pembangunan itu sendiri. Penguatan partisipasi masyarakat haruslah menjadi bagian dari agenda pembangunan itu sendiri, lebih-lebih dalam era globalisasi.

Peranserta masyarakat harus lebih dimaknai sebagai hak daripada sekadar kewajiban. Kontrol rakyat (anggota masyarakat) terhadap isi dan prioritas agenda pengambilan keputusan pembangunan harus dimaknai sebagai hak masyarakat untuk ikut mengontrol agenda dan urutan prioritas pembangunan bagi dirinya atau kelompoknya. (Karsidi, 2004)

Desentralisasi adalah penyerahan sebagian otoritas pemerintah pusat ke daerah, untuk mendistribusikan beban pemerintah pusat ke daerah sehingga daerah dan masyarakatnya ikut menanggung beban tersebut. Tujuannya adalah: (1) mengurangi beban pemerintah pusat dan campur tangan tentang masalah-masalah kecil di tingkat lokal, (2) meningkatkan partisipasi masyarakat, (3) menyusun program-program perbaikan pada tingkat lokal yang lebih realistik, (4) melatih rakyat mengatur urusannya

sendiri, (5) membina kesatuan nasional yang merupakan motor penggerak memberdayakan daerah. Dalam desentralisasi pendidikan, pemerintah pusat lebih berperan dalam menghasilkan kebijaksanaan mendasar (menetapkan standar mutu pendidikan secara nasional), sementara kebijaksanaan operasional yang menyangkut variasi keadaan daerah didelegasikan kepada pejabat daerah bahkan sekolah.

Kurikulum dan proses pendidikan dalam kerangka otonomi daerah, ada bagian yang perlu dibakukan secara nasional, tetapi hanya terbatas pada beberapa aspek pokok, yaitu: (1) Substansi pendidikan yang berada dibawah tanggungjawab pemerintah, seperti PKN, Sejarah Nasional, Pendidikan Agama, dan Bahasa Indonesia; (2) Pengendalian mutu pendidikan, berdasarkan standar kompetensi minimum; (3) Kandungan minimal konten setiap bidang studi, khususnya yang menyangkut ilmu-ilmu dasar; (4) Standar-standar teknis yang ditetapkan berdasarkan standar mutu pendidikan.

Program-program pembelajaran di sekolah berupa desain kurikulum dan pelaksanaannya, kegiatan-kegiatan nonkurikuler sampai pada pengadaan kebutuhan sumber daya untuk suatu sekolah agar dapat berjalan lancar, tampaknya harus sudah mulai diberikan ruang partisipasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Demikian pula di lembaga-lembaga pendidikan lainnya nonsekolah, ruang partisipasi tersebut harus dibuka lebar agar tanggung jawab pengembangan pendidikan tidak tertumpu pada lembaga pendidikan itu sendiri, lebih-lebih pada pemerintah sebagai penyelenggara negara.

Cara untuk penyaluran partisipasi dapat diciptakan dengan berbagai variasi cara sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah atau komunitas tempat masyarakat dan lembaga pendidikan itu berada. Kondisi ini menuntut kesigapan para pemegang kebijakan dan manajer pendidikan untuk mendistribusi peran dan kekuasaannya agar bisa menampung sumbangan partisipasi masyarakat. Sebaliknya, dari pihak masyarakat (termasuk orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat) juga harus belajar untuk kemudian bisa memiliki kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan.

Sebagai contoh tentang partisipasi dunia usaha/industri pada era otonomi daerah. Mereka tidak bisa tinggal diam menunggu dari suatu lembaga pendidikan/sekolah sampai dapat meluluskan alumninya, lalu menggunakannya jika menghasilkan output yang baik dan mengkritiknya jika terdapat output yang tidak baik.

Partisipasi dunia usaha/industri terhadap lembaga pendidikan harus ikut bertanggung jawab untuk menghasilkan output yang baik sesuai dengan rumusan harapan bersama. Demikian juga kelompok-kelompok masyarakat lain, termasuk orang tua siswa. Dengan cara seperti itu, maka mutu pendidikan suatu lembaga pendidikan akan menjadi tanggung jawab bersama antara lembaga pendidikan dan komponen-komponen lainnya di masyarakat.

C. Guru dan Kualitas Pendidikan

“Guru Kencing berdiri, murid kecing berlari”. Pepatah ini dapat memberi kita pemahaman bahwa betapa besarnya peran guru dalam dunia pendidikan. Pada saat masyarakat mulai menggugat kualitas pendidikan yang dijalankan di Indonesia maka akan banyak hal terkait yang harus dibenahi. Masalah sarana dan prasarana pendidikan, sistem pendidikan, kurikulum, kualitas tenaga pengajar (guru dan dosen), dll.  Secara umum guru merupakan faktor penentu tinggi rendahnya kualitas hasil pendidikan. Namun demikian, posisi strategis guru untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan sangat dipengaruhi oleh kemampuan profesional, faktor kesejahteraannya, dll.

Kalau mengacu pada konsep di atas, menjadi profesional adalah meramu kualitas dengan intergiritas, menjadi guru pforesional adalah keniscayaan. Namun demikian, profesi guru juga sangat lekat dengan peran yang psikologis, humannis bahkan identik dengan citra kemanusiaan. Karena ibarat sebuah laboratorium, seorang guru seperti ilmuwan yang sedang bereksperimen terhadap nasib anak manusia dan juga suatu bangsa.Ada beberapa kriteria untuk menjadi guru profesional.

Menjadi guru mungkin semua orang bisa. Tetapi menjadi guru yang memiliki keahlian dalam mendidikan atau mengajar perlu pendidikan, pelatihan dan jam terbang yang memadai. Dalam kontek diatas, untuk menjadi guru seperti yang dimaksud standar minimal yang harus dimiliki adalah:

a.       Memiliki kemampuan intelektual yang memadai

b.      Kemampuan memahami visi dan misi pendidikan

c.       Keahlian mentrasfer ilmu pengetahuan atau  metodelogi pembelajaran

d.      Memahami konsep perkembangan anak/psikologi perkembangan

e.       Kemampuan mengorganisir dan problem solving

f.       Kreatif dan memiliki seni dalam mendidik

Profesi guru sangat identik dengan peran mendidik seperti membimbing, membina, mengasuh ataupun mengajar. Ibarat sebuah contoh lukisan yang akan ditiru oleh anak didiknya. Baik buruk hasil lukisan tersebut tergantung dari contonya. Guru (digugu dan ditiru)  otomatis menjadi teladan. Melihat peran tersebut, sudah menjadi kemutlakan bahwa guru harus memiliki integritas dan personaliti yang baik dan benar. Hal ini sangat mendasar, karena tugas guru bukan hanya mengajar (transfer knowledge)  tetapi juga menanamkan nilai – nilai dasar dari bangun karakter atau akhlak anak.

BAB III

PENUTUP

Dalam rangka mencapai mutu yang tinggi dalam bidang pendidikan, peranan guru sangatlah penting bahkan sangat utama. Untuk itu, maka profesionalisme guru harus ditegakkan dengan cara pemenuhan syarat-syarat kompetensi yang harus dikuasai oleh setiap guru, baik di bidang penguasaan keahlian materi keilmuan maupun metodologi.  Guru harus bertanggungjawab atas tugas-tugasnya dan harus mengembangkan kesejawatan dengan sesama guru melalui keikutsertaan dan pengembangan organisasi profesi guru.

Untuk mencapai kondisi guru yang profesional, para guru harus menjadikan orientasi mutu dan profesionalisme guru sebagai etos kerja mereka dan menjadikannya sebagai landasan orientasi berperilaku dalam tugas-tugas profesinya. Karenanya, maka kode etik profesi guru harus dijunjung tinggi.

Dalam perkembangannya, disadari bahwa profesi guru belum dalam posisi yang ideal seperti yang diharapkan, namun harus terus diperjuangkan menuju yang terbaik. Pada saat diberlakukannya otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan yang bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya teknologi informasi yang sangat pesat, dipahami bahwa banyak tantangan sekaligus peluang yang harus dihadapi untuk dapat diselesaikan oleh para guru dan lembaga penyelenggara pendidikan.

Tantangan dan peluang tersebut antara lain: berubahnya peran guru dalam manajemen proses belajar mengajar, kurikulum yang terdesentralisasi, pemanfaatan secara optimal sumber-sumber belajar lain dan teknologi informasi, usaha pencapaian layanan mutu pendidikan yang optimal, dan penegakan profesionalisme guru. Para guru mempunyai tantangan untuk dapat beradaptasi dengan sebaik-baiknya dalam situasi transisi, agar dapat memperkecil dampak negatif dan memperbesar dampak positifnya. Menyikapi hal-hal demikian, tidak lain maka para guru haruslah dapat mengembangkan suatu perilaku adaptif agar berhasil mengemban profesinya di era otonomi daerah dan era global ini. Dengan cara demikian, karena guru adalah “soko guru” pendidikan, mudah-mudahan peningkatan mutu pendidikan di era otonomi daerah segera akan tercapai.

Secara sederhana, persoalan guru, khususnya guru profesional, dapat dijawab dengan tiga kata kunci utama yaitu (1) sistem, (2) kesejahteraan, dan (3) kewenangan peran. Sistem di sini terdiri dari tiga sub, yaitu sistem pendidikan guru Indonesia (pre-service), sistem seleksi guru, dan juga sistem peningkatan mutu guru (in-service). Sedangkan kesejahteraan lebih cenderung kepada gaji yang selaras dengan profesi guru.

Terakhir, yang juga tak kalah penting adalah pendelegasian wewenang peran bagi para guru sendiri untuk menjalankan metode apa yang paling baik baginya untuk melaksanakan PBM serta penilaian apa yang akurat terhadap hasil yang diperoleh anak didik selama dibawah asuhannya.
Tentu tidak dapat dinafikan, hal semacam ini tidak sepenuhnya bisa menjamin lantaran potensi penyimpangan pun besar kemungkinan akan terjadi. Tapi, pemberian kepercayaan seperti ini setidaknya menjadi measure atau alat penguji bagi para guru, apakah layak disebut professional, atau mungkin sebaliknya. Entahlah.

DAFTAR PUSTAKA

Jalal, Fasli dan Dedi Supriyadi (ed). 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicipta.

Karsidi, Ravik. 2000. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan, Bahan Ceramah di Pondok Assalam, Surakarta 19 Februari.

—–, 2004. Reaktualisasi Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Pendidikan di Indonesia. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Sosiologi Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret.

Sallis, Edward. 1993. Total Quality Management in Education, Kogam Page, London.

Slamet, Margono, 1999. Filosofi Mutu dan Penerapan Prinsip-Prinsip Manajemen Mutu Terpadu, IPB Bogor.

Surya, Muhammad. 2003. Percikan Perjuangan Guru. Semarang: Aneka Ilmu.

Wirakartakusumah, Aman. 1998. Pengertian Mutu Dalam Pendidikan, Lokakarya MMT IPB, Kampus Dermaga Bogor, 2-6 Maret

Wen, Sayling. 2003. Future of Education (Masa Depan Pendidikan), alih bahasa Arvin Saputra, Batam: Lucky Publisher.

13

Permalink Leave a Comment