KBM IPA Berbasis Multi Media Komputer

6 October 2010 at 3:22 pm (Metode Pembelajaran)


Pembelajaran IPA Menggunakan Multi Media Komputer

Untuk Meningkatkan Penguasaan Materi IPA

A. Landasan Teori

  1. Peningkatan Penguasaan Materi

Kita mengetahui bahwa di SMP, mata pelajaran Fisika merupakan bagian dari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Fisika merupakan mata pelajaran yang diharapkan mampu memperluas wawasan pengetahuan tentang materi dan energi, meningkatkan keterampilan ilmiah bagi anak didik. Selain itu Fisika diharapkan berfungsi menumbuhkan sikap ilmiah dan meningkatkan kesadaran atas kebesaran kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk mencapai harapan itu, pelajaran Fisika tidak mungkin hanya dipandang sebagai “sosok pengetahuan pejal (body of knowledge), sehingga diharapkan siswa sebagai pengumpul atau kolektor dari temuan ahli-ahli Fisika” (Karhami, 1998 : 3). Menurut GBPP 1994 pengertian IPA (termasuk di dalamnya Fisika) adalah “hasil kegiatan manusia yang berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi, tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah”. Hal ini dapat diartikan bahwa konsep Fisika tidak sekedar menjadi ingatan semata, akan tetapi lebih dari itu, yakni suatu konsepsi yang disertai alasan logis. Untuk memperoleh itu, siswa perlu mendapat pengalaman langsung dan melakukan kegiatan ilmiah melalui kegiatan coba-coba (trial and error).

Agar perilaku tersebut ada dalam diri siswa, maka seorang siswa harus mempunyai kemauan yang keras untuk belajar, kemampuan dalam menguasai materi pelajaran, dan kesempatan yang luas untuk belajar. Ketiganya ini harus seiring sejalan.

Kemauan yang keras disebut motivasi. Ada dua kemungkinan motivasi yang timbul pada siswa saat terlibat dalam aktivitas belajar yaitu motivasi yang timbul dari dalam dirinya sendiri, atau motivasi yang timbul dari luar dirinya. (Mohammad Noer, 1996).

Motivasi yang berasal dari dirinya sendiri lebih bersifat kognitif dan pada umumnya akan dapat mengambil langkah-langkah konkret untuk mencapai tujuan. Motivasi ini timbul karena siswa terdorong oleh kebutuhan keterlibatannya dalam belajar. Siswa belajar itu sendiri dapat bermanfaat bagi dirinya. Tujuan yang ingin dicapai terletak dalam perbuatan belajar itu sendiri, misalnya menambah pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya.

Pada motivasi yang berasal dari luar, menurut siswa, belajar itu bukan dapat bermanfaat bagi dirinya, melainkan karena mengharapkan sesuatu di balik kegaitan belajar itu. Misalnya nilai yang baik, hadiah, penghargaan atau menghindari dari hukuman. Tujuan yang ingin dicapai di luar perbuatan belajar itu. Maka pujian terhadap seseorang siswa yang menunjukkan prestasi belajarnya merupakan salah satu upaya menumbuhkan motivasi dari luar siswa. Motivasi dari luar siswa akan efektif bila sesuai dengan kebutuhan siswa. Maka dari itu, upaya lain yang perlu dilakukan oleh seorang guru adalah menyajikan materi pelajaran yang menarik dan semudah mungkin, sehingga siswa menjadi menyukai pelajaran yang disampaikan dan dapat lebih mudah memahami dan menguasai materi pelajaran. Dari sini peran guru dapat ditingkatkan sebagai pendidik, fasilitator, manajer, dan teman bagi siswa. Dengan menggunakan motivasi yang tepat, penguasaan materi Fisika, khususnya Perpindahan kalor dapat meningkat.

Menjadi jelaslah bahwa salah satu masalah yang dihadapi guru untuk menyelenggarakan pengajaran adalah bagaimana memotivasi atau menumbuhkan motivasi dalam diri siswa secara efektif. Keberhasilan suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh adanya penyediaan motivasi atau dorongan.

Dalam teori konstruktivisme disebutkan, bahwa siswa belajar tidak hanya menerima dari apa yang telah diajarkan guru, melainkan siswa juga akan membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya. Guru dapat membantu memberikan kemudahan dalam proses pembentukan kognitif siswa, memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri. Guru dapat memberikan anak tangga pada siswa untuk membawa pada pemahaman siswa sendiri. (Mohammad Noer, 1996)

Dengan demikian dapat ditentukan bahwa keberhasilan seorang siswa dalam belajar dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu :

1.      Kemauan siswa dalam bejalar (motivation).

2.      Kemampuan siswa menguasai materi pelajaran (ability).

3.      Kesempatan yang luas bagi siswa untuk belajar (opportunity).

Dengan mendasarkan pada pemahaman filosofis pembentukan kognitif pada siswa seperti tersebut di atas, jika dilaksanakan dalam KBM akan bermanfaat bagi peningkatan penguasaan materi Fisika, khususnya pada Konsep Perpindahan kalor.

  1. Pembelajaran Multi Media Komputer

Dalam setiap kegiatan Proses Belajar Mengajar tentunya akan terjadi proses komunikasi antara guru yang menjadi sumber informasi dan siswa sebagai penerima pesan informasi. Dalam kenyataan yang terjadi pesan yang disampaikan guru kadangkala tidak diterima secara utuh oleh siswa. Hal itu bisa terjadi karena proses penyampaian pesan tidak efektif.

Agar pasan yang disampaikan oleh pemberi pesan diterima secara utuh oleh penerima pesan, maka perlu adanya wahana penyalur pesan itu. Wahana itulah yang disebut media. Dari sekian banyak media pembelajaran, media pandang dengarlah (multimedia) yang lebih mudah dan cepat diterima jika dibanding dengan penjelasan lesan.

Multi media dalam penelitian ini adalah multi image yang menggunakan media office Microsoft Powerpoint , komputer, LCD dan perangkat sound sistem. Media ini mempunyai kelebihan antara lain : Keterangan dapat ditulis dan dilengkapi gambar, Gambar bisa berupa gambar diam atau bergerak, dapat dilengkapi efek suara maupun video ( audio visual ). Mengingat kelebihannya tersebut, jelas multi media komputer ini memiliki semua aspek yang dimiliki oleh media-media lain.

B. Penelitian yang Relevan

Mengapa untuk meningkatkan penguasaan konsep Perpindahan kalor menggunakan pendekatan multimedia? Kami mempunyai beberapa asumsi yang menjadi dasar penelitian ini .

1.      Penyampaian materi Perpindahan kalor akan sulit dipahami siswa jika penekanannya hanya pada penguasaan materi ilmu itu sendiri,                             tanpa melibatkan keterampilan mental (intelektual) yang sering disebut keterampilan proses. Untuk itu setiap siswa perlu mendapat pengalaman nyata melalui interaksi langsung dengan suatu obyek, sehingga siswa senantiasa membangun suatu gagasan khas tentang benda atau peristiwa di sekitarnya. Selain itu juga siswa bisa ikut mengenal dan memanfaatkan peralatan-peralatan yang baru baginya untuk belajar interaktif. Hal ini sesuai pendapat Piaget, bahwa pengetahuan akan dibentuk oleh siswa jika terjadi interaksi aktif antara siswa itu dengan obyek dan siswa selalu mencoba untuk membentuk pengertian dari interaksi tersebut. (Darliana, 1990). Untuk itu pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran multi image ini sangat diperlukan untuk meningkatkan pemahaman siswa.

2.      Konsep Perpindahan kalor banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dan diterapkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakekatnya selalu terbuka untuk dipertanyakan, dipersoalkan dan dikembangkan lebih lanjut. Untuk itu siswa perlu didorong dan diberi kesempatan untuk mencari dan mengumpulkan data serta mengolahnya, mengadakan percobaan, melapor-kan, dan mempertanggungjawabkan hasil temuannya dan mengkomunikasi-kannya dengan benar. Hal ini yang harus dilatihkan kepada siswa sejak dini.

3.      Perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorias dalam diri siswa mesti dibina secara berimbang dan menyatu. Untuk itulah dituntut keterlibatan belajar siswa dengan mendayagunakan semua potensi dirinya melalui cara-cara belajar yang benar dan bersifat intensif. Menurut pandangan seorang ahli siswa akan memahami pelajarannya bila siswa aktif sendiri membentuk atau menghasilkan pengertian dari hal-hal yang diinderanya. Pengertian yang dimiliki siswa merupakan bentuknya sendiri dan bukan hasil bentukan dari guru. (Darliana, 1990)

Berdasarkan pada asumsi-asumsi di atas, jika kita ingin siswa dapat mengembangkan pengetahuannya, khususnya dalam upaya meningkatkan pemahaman terhadap konsep Perpindahan kalor, pembelajaran dengan multimedia komputer perlu dilaksanakan. Dengan begitu, tujuan pembelajaran umum dari pokok bahasan ini sesuai dengan Standar Kompetensi dan Komptensi Dasar diharapkan dapat tercapai.

C. Kerangka Berfikir

Inovasi pendidikan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengarah pada pembentukan kecakapan hidup ( life skill ). Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus yang akhirnya akan melahirkan seseorang menjadi kompeten untuk melakukan sesuatu dalam kenyataan kehidupan sehari-hari. Materi perpindahan kalor ini tidak sekedar suatu teori yang harus  dibaca dan dihapalkan belaka, tetapi harus difikirkan dan dipahami serta dapat mengaitkan proses terjadinya suatu perpindahan kalor itu secara ilmiah.

Untuk itu pembelajaran materi perpindahan kalor ini dengan menggunakan  multi media komputer sangat diperlukan, disamping siswa mendapat variasi / keragaman tehnik belajar dari gurunya juga dapat meningkatkan makna pembelajaran bagi siswa. Adanya peningkatan makna pembelajaran ini diharapkan akan meningkatkan hasil belajar siswa.

D. Hipotesis

Berdasarkan kerangka teoritik di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut :

Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam penguasaan materi perpindahan kalor dapat dilakukan dengan menggunakan multi media komputer dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga dengan adanya model pembelajaran multi image dari guru ini dapat mempermudah siswa dalam penguasaan materi perpindahan kalor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: